Rabu, 16 November 2011

AIR PDAM DI PAGUAT, POHUWATO BAU DAN KOTOR

AIR ADALAH SUMBER KEHIDUPAN YANG UTAMA


Pertengahan 2011, atau tepatnya Oktober 2011, saya berkunjung ke kampung halaman di desa Bumbulan, kecamatan Paguat, Pohuwato.

Selama 2 minggu kami disana, air PDAM sangatlah memprihatinkan, bahkan tidak sedikit masyarakat disana mengalami gatal dan bintik bintik pada kulit. Hal ini sudah lama mereka alami dan pemerintah hanya diam dan tidak ada usaha apaun yang dilakukan, kenapa demikian sebab ini sudah belangsung lama dari sejak awal PDAM di bangun dan mulai beropersi.


Setahu saya, seperti di Pemkot Malang, Jawa Timur, pemeriksaan kualitas air dilakukan setiap minggu oleh petugas laboratorium PDAM Kota Malang. Kemudian setiap bulan, petugas laboratorium Dinas Kesehatan juga melakukan pemeriksaan. Kualitas air PDAM Kota Malang telah memenuhi standar kualitas air minum, atau sudah sesuai dengan Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990. Karena memenuhi standar air minum dan sangat layak, maka air PDAM Kota Malang bisa diminum langsung. Tetapi apabila pelanggan masih ragu, maka air bisa dimasak dahulu sebelum diminum, sebagai proses disinfeksi ulang.

Pemeriksaan laboratorium wajib dilakukan oleh pihak PDAM dengan menliputi tiga bidang hal utama. Yaitu fisika, kimia, dan mikrobiologi. Untuk fisika diantaranya mencakup bau, kadar TDS 120, tingkat kekeruhan hanya satu, dan tak berasa. Sedangkan berdasarkan parameter kimia, air PDAM tidak mengandung bahan kimia berbahaya. Misalnya tak mengandung air raksa, aluminium, fluorida, dan berbagai bahan kimia berbahaya lainnya. Untuk pemeriksaan dengan parameter mikrobiologi, mencakup pemeriksaan koliform tinja dan total koliform.

Apakah hal diatas sudah dilakukan PDAM Pohuwato? Saya melihat ada kesan pembiaran dan masabodo.

Berpikirlah dengan akal sehat, jika air PDAM ini GRATIS, ngk ada masalah.... tapi ini BAYAR, bukan gratis... dilemanya kita bayar air BUSUK dan mungkin berbahan kimia berbahaya yang dapat membunuh kita.

AIR ADALAH SUMBER KEHIDUPAN YANG UTAMA, Gimana bangsa ini mau maju, airnya aja bau. JANGANKAN UNTUK MINUM, UNTUK MANDI SAJA TIDAK LAYAK.

Masya Allah.

PENGRUSAKAN EKOSISTEM LAUT (PENGEBOMAN IKAN) DI POHUWATO


Pulau Bitila, Paguat - Pohuwato
Bangsa Indonesia wajib bersyukur kepada Allah SWT bahwa telah diberikan karunia kekayaan berupa keanekaragaman hayati di lautan dalam jumlah yang sangat besar berupa ikan, terumbu karang, kerang, algae dan lain-lain.  Pemerintah telah menggariskan bahwa pembangunan sektor kalautan diarahkan pada pendayagunaan sumberdaya laut tersebut serasi dan seimbang dengan memperhatikan dayadukung kelautan dan kelestariannya untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat dan memperluas kesempatan berusaha.

Tetapi terlepas dari rasa bangga dan bahagia, kami merasa sangat perihatin dengan apa yang sebenarnya terjadi di kawasan laut daerah bualemo (khusunya pesisir antara Kec. Tilamuta s/d Kec. Marisa) hampir setiap hari terjadi pengeboman ikan. Masalah yang lebih rumit adalah ada sekelompok masyarakat yang berpendidikan dan bermodal kuat menggunakan bahan-bahan cyanida dan bom serta didukung oleh peralatan selam untuk mengeksploitasi sumberdaya ikan karang. Anehnya pengoboman itu berjalan dengan “mulus” sampai sekarang ini, bahkan terkesan di “lindungi” oleh penguasa setempat.

Beberapa waktu yang lalu tepatnya bulan April tahun 2001 saya berkunjung kedaerah asal saya (Kec. Paguat). Beberapa tokoh masyarakat mengeluh mengenai ketidak terpeliharanya ekosistem laut di daerah tersebut. Masyarakat di daerah tersebut (khususnya bagian Selatan / Barat laut) adalah mayoritas bermata pencaharian di Laut yaitu NELAYAN. Keluhan yang mereka utarakan adalah adanya PENGEBOMAN IKAN (yang sudah berlangsung lebih dari 6 tahun) di area tempat mereka mengais rezeki. Hal ini sangat memprihatinkan karena sudah sangat lama DIBIARKAN dan bahkan terkesan DILINDUNGI oleh (oknum?) pihak berwajib ditempat tersebut. Beberapa tokoh Masyarakat bahkan sudah melakukan upaya-upaya lobi kepihak yang mereka anggap lebih berkompoten yaitu pihak Kabupaten. Tetapi hal tersebut jauh dari perhatikan pemerintah setempat. Ini bertentangan dengan pengukuhan Gorontalo sebagai etalase perikanan terpadu di kawasan utara Indonesia.

Ekosistem terumbu karang mempunya potensi ekonomi yang sangat besar. Para pengguna racun Cyanida didaerah kami umumnya  bermaksud menangkap ikan karang untuk dipasarkan dalam keadaan hidup dan membentuk jaringan penangkap dan pemasaran secara internasional. Karena ikan-ikan yang dibom biasanya mati dan mengalami kehancuran sehingga pada akhirnya hanya dipasarkan skala daerah dan bahkan sebagian dari hasil tangkapan (bom) mereka buang karena diluar skala mereka atau terlalu kecil.

Kita tunggu saja, apa yang akan dilakukan pemimpin-pemimpin di Pohuwato.